


Prompted Playlist Spotify: Cara Baru Mengendalikan Algoritma Musik – Perkembangan kecerdasan buatan terus mengubah cara kita menikmati konten digital, termasuk dalam dunia musik streaming. Spotify, sebagai salah satu platform streaming terbesar di dunia, kembali menghadirkan inovasi yang memberi peran lebih besar kepada pengguna. Melalui fitur terbaru bernama Prompted Playlist Spotify, pengguna kini dapat mengontrol algoritma rekomendasi musik dengan cara yang jauh lebih personal dan fleksibel.
Dengan pendekatan berbasis prompt berbantuan AI, Spotify mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih transparan, kontekstual, dan relevan.
Prompted Playlist Spotify adalah fitur berbasis AI yang memungkinkan pengguna membuat playlist hanya dengan menuliskan deskripsi musik yang ingin mereka dengarkan. Berbeda dengan playlist otomatis sebelumnya, fitur ini tidak hanya mempertimbangkan kebiasaan mendengarkan saat ini, tetapi juga seluruh riwayat mendengarkan pengguna sejak pertama kali menggunakan Spotify.
Melalui pendekatan ini, Spotify berusaha menangkap “alur penuh” selera musik penggunanya. Artinya, playlist yang dihasilkan tidak hanya berisi lagu-lagu populer yang sering diputar belakangan, tetapi juga lagu lama, genre tertentu, hingga musisi favorit dari periode waktu tertentu yang mungkin sudah jarang muncul di rekomendasi biasa.
Sebelum menghadirkan Prompted Playlist Spotify, platform ini telah lebih dulu meluncurkan fitur AI Playlist berbasis teks. Namun, versi terbaru ini membawa peningkatan signifikan. Pengguna kini dapat menulis prompt yang lebih panjang dan spesifik, lengkap dengan konteks tambahan.
Spotify menjelaskan bahwa fitur ini kini memanfaatkan pemahaman pengetahuan umum atau world knowledge, sehingga AI mampu memahami instruksi yang lebih kompleks. Contohnya, pengguna dapat meminta playlist berdasarkan rentang waktu tertentu, suasana hati, hingga preferensi tersembunyi yang jarang dieksplorasi algoritma.
Selain itu, pengguna juga dapat menentukan seberapa sering playlist tersebut diperbarui, baik harian, mingguan, maupun sesuai kebutuhan.
Dengan Prompted Playlist Spotify, pengguna bebas bereksperimen dengan berbagai jenis perintah. Misalnya, seseorang bisa meminta “musik dari artis favorit saya dalam lima tahun terakhir” lalu menyempurnakannya dengan instruksi tambahan seperti “lagu yang jarang diputar” atau “deep cuts yang belum pernah saya dengar”.
Prompt tersebut bisa terus disesuaikan hingga playlist benar-benar terasa personal. Pendekatan ini membuat pengguna seolah menciptakan playlist kurasi sendiri, mirip dengan Discover Weekly, namun dengan kendali penuh di tangan pendengar.
Spotify juga menyertakan deskripsi dan konteks di setiap playlist, sehingga pengguna memahami alasan di balik setiap rekomendasi lagu yang muncul.
Salah satu kritik utama terhadap algoritma rekomendasi adalah kurangnya transparansi. Melalui Prompted Playlist Spotify, pengguna diajak lebih aktif dalam proses kurasi. Spotify bahkan menyediakan contoh prompt untuk membantu pengguna memulai, sehingga fitur ini tetap ramah bagi pengguna awam.
Pendekatan ini menunjukkan perubahan filosofi Spotify, dari algoritma yang sepenuhnya mengatur pengalaman mendengarkan, menjadi kolaborasi antara AI dan pengguna. Hasilnya, pengalaman musik terasa lebih relevan dan tidak monoton.
BACA JUGA: CoreWeave AI dan Skala Infrastruktur Nyata Masa Depan
Saat ini, Prompted Playlist Spotify masih berada dalam tahap beta dan baru tersedia untuk pengguna Premium di Selandia Baru, dengan dukungan bahasa Inggris. Spotify menyatakan bahwa fitur ini akan terus dikembangkan sebelum dirilis ke pasar global.
Langkah bertahap ini menunjukkan kehati-hatian Spotify dalam memastikan kualitas dan akurasi rekomendasi, mengingat fitur ini sangat bergantung pada pemahaman konteks dan data historis pengguna.
Spotify bukan satu-satunya platform yang mulai memberi kendali algoritma kepada pengguna. Instagram, misalnya, kini memungkinkan pengguna mengatur jenis konten Reels yang ingin mereka lihat. Platform sosial lain seperti Bluesky bahkan memungkinkan pengguna mengganti algoritma utama dengan versi pilihan mereka sendiri.
Tren ini menandakan perubahan besar dalam dunia digital, di mana personalisasi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh preferensi eksplisit pengguna.
Kehadiran Prompted Playlist Spotify membuka peluang baru dalam cara musik ditemukan dan dinikmati. Bagi pendengar, fitur ini memberi ruang eksplorasi yang lebih luas dan mendalam. Bagi industri musik, pendekatan ini berpotensi membantu lagu-lagu lama atau niche kembali ditemukan oleh audiens yang tepat.
Lebih jauh, teknologi ini menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan bukan untuk menggantikan pilihan manusia, melainkan memperkuatnya. Pendekatan serupa berpotensi diterapkan di berbagai sektor digital lainnya, termasuk pengalaman visual interaktif dan teknologi imersif.
Kemampuan AI untuk memahami konteks, preferensi, dan riwayat pengguna juga menjadi fondasi penting dalam pengembangan teknologi Augmented Reality dan Virtual Reality. Konsep personalisasi berbasis prompt seperti pada Prompted Playlist Spotify dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman visual yang lebih interaktif dan relevan.
Hal ini membuka peluang besar bagi brand dan bisnis untuk menghadirkan pengalaman digital yang benar-benar disesuaikan dengan audiensnya.
Jika Anda tertarik menghadirkan pengalaman digital yang personal dan interaktif seperti pendekatan AI, IPTEC Digital Solution siap membantu Anda mengembangkan solusi inovatif melalui Jasa Augmented Reality Jakarta.