

Asahi Group Diterpa Serangan Siber Besar – Raksasa minuman asal Jepang, Asahi, baru-baru ini mengalami serangan siber yang cukup serius hingga menyebabkan gangguan besar pada operasional perusahaan. Insiden yang terjadi pada akhir bulan lalu itu memaksa Asahi menghentikan produksi bir di sebagian besar dari 30 pabriknya di Jepang. Gangguan tersebut berdampak pada pengiriman produk hingga sistem keuangan internal perusahaan.
Setelah sempat lumpuh, sebagian fasilitas Asahi kini telah kembali beroperasi. Namun, sistem komputer perusahaan masih belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi darurat ini, pemrosesan pesanan dilakukan secara manual menggunakan pena dan kertas. Bahkan mesin faks, sebuah langkah yang jarang ditemui di era digital seperti sekarang.
Dalam pernyataan resminya pada Selasa lalu, Asahi Group menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyelidiki kemungkinan adanya pencurian data pribadi akibat serangan ransomware tersebut. Tim tanggap darurat perusahaan bekerja sama dengan pakar keamanan siber untuk memulihkan sistem secepat mungkin serta memastikan keamanan seluruh jaringan internal.
“Asahi saat ini fokus menelusuri sistem yang menjadi target serangan. Dari hasil awal penyelidikan, kami menemukan kemungkinan adanya transfer data pribadi yang tidak sah,” tulis pihak Asahi dalam pernyataannya.
Perusahaan menegaskan, jika hasil penyelidikan mengonfirmasi adanya kebocoran data, mereka akan segera memberi tahu pihak yang terdampak dan mengambil langkah hukum sesuai regulasi perlindungan data pribadi yang berlaku di Jepang. Hingga kini, belum ada informasi pasti mengenai jenis atau jumlah data pribadi yang mungkin telah dicuri dari Asahi.
Gangguan siber ini memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas bisnis Asahi. Perusahaan bahkan menunda pengumuman laporan keuangan kuartal ketiga karena sistem akuntansi dan distribusi masih dalam tahap pemulihan. Laporan yang seharusnya diumumkan dalam waktu 45 hari setelah kuartal berakhir kini belum memiliki jadwal pasti, tergantung pada seberapa cepat sistem mereka dapat dipulihkan.
Meskipun begitu, Asahi memastikan bahwa sebagian besar produksi sudah kembali berjalan meski belum sepenuhnya normal. Perusahaan Asahi juga meminta maaf kepada pelanggan dan mitra bisnis atas masalah yang terjadi karena insiden ini.
Serangan ini hanya berdampak pada sistem dan operasi Asahi di Jepang, yang menyumbang sekitar setengah dari total penjualan global perusahaan. Merek-merek internasional yang dimiliki Asahi seperti Peroni, Grolsch, Pilsner Urquell, dan Fuller’s di Inggris dilaporkan tidak terdampak.
Kelompok peretas Qilin, yang berbasis di Rusia, mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Grup tersebut dikenal sebagai salah satu pelaku ransomware aktif yang sebelumnya juga menyerang beberapa organisasi besar, termasuk sistem kesehatan nasional Inggris (NHS).
Serangan ini menambah daftar panjang kasus peretasan yang menargetkan perusahaan besar di dunia. Sebelumnya, nama-nama besar seperti Jaguar Land Rover, Marks and Spencer, serta Co-op juga menjadi korban serangan siber pada tahun yang sama.
BACA JUGA: Silicon Valley: Pusat Inovasi yang Menginspirasi Dunia
Insiden yang menimpa Asahi Group menunjukkan betapa seriusnya ancaman kejahatan siber di industri era modern. Menurut laporan dari National Cyber Security Centre (NCSC) Inggris, jumlah serangan siber berskala besar di tahun ini meningkat drastis, dengan rata-rata empat insiden besar terjadi setiap minggu.
Peningkatan ini mendorong pemerintah dan lembaga keamanan di berbagai negara untuk menyerukan tindakan nyata dalam memperkuat sistem pertahanan digital. Langkah-langkah seperti penggunaan sistem keamanan berlapis, enkripsi data. Hingga pelatihan karyawan mengenai keamanan siber menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Kasus serangan ransomware yang menimpa Asahi Group menjadi pengingat bahwa tidak ada perusahaan yang benar-benar kebal terhadap ancaman siber, bahkan bagi korporasi besar dengan sumber daya teknologi tinggi. Meskipun pemulihan sistem butuh waktu, komitmen Asahi untuk menjaga keamanan data dan bersikap transparan kepada publik. Menunjukkan tanggung jawab perusahaan terhadap pelanggan mereka.
Serangan siber membuktikan pentingnya sistem keamanan digital yang kuat. Untuk melindungi bisnis dan meningkatkan kepercayaan pengguna, perusahaan perlu mengintegrasikan teknologi yang aman dan inovatif. IPTEC siap membantu perusahaan menghadapi era digital dengan layanan teknologi terkini. Seperti Jasa Augmented Reality Jakarta, Jasa Virtual Reality Jakarta, serta Virtual Reality Indonesia.
Melalui solusi digital interaktif, IPTEC membantu bisnis menciptakan pengalaman pelanggan yang aman, menarik, dan berdaya saing tinggi di tengah tantangan dunia digital yang terus berkembang.